Dalam Banyak Situasi, Kejujuran Tetap Pilihan yang Terbaik
Agama selalu mengajarkan kita untuk berlaku baik. Kujujuran, rendah hati, amanah dan penyayang adalah sedikit dari sekian banyak yang diajarkan agama kepada Manusia. Utamanya agama Islam. Khusus soalan kejujuran sebenarnya sudah menjadi suatu adab manusia sejak lama. Hati nurani manusia pasti akan selalu menuntun kepada kebaikan, salah satunya adalah kejujuran ini. Namun ada kalanya, manusia menghadapi dilema atau masalah yang berkaitan dengan sikap jujur. Namun bagaimanapun juga, setiap manusia pasti rindu terhadap kejujuran. Bahkan orang paling jahat sekalipun ingin orang lain jujur kepadanya, ya kan?
Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan menuntun menuju Surga. Sungguh seseorang yang membiasakan jujur niscaya dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kemungkaran, sedangkan kemungkaran menjerumuskan ke Neraka. Sungguh orang yang selaluberdusta akan dicatat sebagai pendusta.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Para ulama menetapkan pembagian hukum dusta sesuai dengan lima kategori hukum syar’i, meskipun pada dasarnya hukum bohong adalah haram. Adapun pembagiannya adalah sbb:
Haram, yaitu kebohongan yang tak berguna menurut kacamata syar’i.
Makruh, yakni dusta yang dipergunakan untuk memperbaiki kemelut rumah tangga dan yang sejenisnya.
Sunnah, yaitu seperti kebohongan yang ditempuh untuk menakut-nakuti musuh Islam dalam suatu peperangan, seperti pemberitaan yang berlebihan tentang jumlah tentara dan perlengkapan kaum muslimin agar pasukan musuh gentar.
Wajib, yaitu seperti dusta yang dilakukan untuk menyelamatkan jiwa seorang muslim atau hartanya dari kematian dan kebinasaan.
Mubah, misalnya yang dipergunakan untuk mendamaikan persengketaan di tengah masyarakat.
Tetapi semua ulama bersepakat , semua bentuk dusta adalah buruk dan harus dijauhi, sebab tidak sedikit ayat-ayat Al Qur’an yang mencelanya. Jadi alangkah sangat baik jika sekuat mungkin bohong itu dihindari.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (Al-Isra’: 36)
http://www.facebook.com/note.php?note_id=123606474397902
Image Credit: Bellanisa.
Ada satu tanggapan dari pembaca artikel ini
Dibawah ini adalah tanggapan yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, untuk itu berbuatlah yang baik. Caci maki hanya akan menyakiti orang lain. :)

Adang pada 14/02/2012 berpendapat sebagai berikut:
sanagat inspiratif sekali tulisannya … menarik sekali bahasannya.