Pentingnya Ibadah dengan Keikhlasan, Bukan Sekedar Ritual
Tak terasa sudah memasuki bulan Dzulhijjah. Udah tanggal 9 pula. Kalo begitu besok itu Idul Adha, kan? Ya, betul sekali. Besok saatnya umat Islam menyembelih hewan Qurban. Kalo tidak bisa besok, masih ada senin, selasa dan rabu kok, hari Tashriq. Seperti di kampung saya, adalah suatu kebiasaan untuk tidak menyembelih semua qurban di hari pertama untuk menghindari distribusi yang tergesa-gesa dan tidak tepat sasaran.
Ngomong-ngomong tentang Idul Adha, saya punya cerita tentang Idul Adha dari tahun-tahun yang lalu, saat saya masih berada di kampung halaman. Kebetulan untuk saat ini saya tidak pulang kampung. Cerita ini memang sudah cukup lama sekali yaitu sekitar tahun 2007. Waktu itu saya masih aktif menjadi anggota karang taruna dan remaja masjid. Suatu pengalaman yang mungkin sudah langka dimiliki oleh remaja saat ini.
Ustadz kami orangnya sangat “strict” sekali dalam menjalankan agama. Kalo malam takbiran seperti ini, beliau menyarankan supaya takbiran saja di masjid tanpa pengeras suara. Yang beliau ajarkan adalah bukan seberapa keras kita meneriakkan nama Allah, tapi seberapa keras hati kita bergetar mendengar nama Allah. Bukan seberapa banyak kita menyebut nama Allah, tapi bagaimana sikap kita mencerminkan seruan Allah. Dari beliau saya sering belajar yang namanya ilmu ikhlas. Menurut beliau, keikhlasan adalah puncak dari agama.
Dongeng seribu satu warga
Alkisah ada seorang warga yang kaya raya, sebut saja namanya Sukro. Kebiasaan pak Sukro ini sangatlah unik. Dia akan mengantarkan hewan qurban setelah sholat idul adha. Pada awalnya kami (anak-anak remaja masjid) tidak menganggap itu aneh, tapi kejadian terus berulang dari tahun ke tahun. Ternyata maksud dan tujuannya adalah supaya banyak orang yang tahu bahwa dia berqurban. Memang di masjid kami tidak ada tradisi mengumumkan siapa saja yang berqurban, sehingga dia melakukan “pengantaran sendiri” setelah sholat ied, diketahui dari percakapan dengan istrinya sendiri yang tidak sengaja kami dengar.
Di suatu ketika menjelang idul adha 1428 H (2008 M), pak Ustadz berpesan kepada teman-teman remaja masjid yang rumahnya dekat dengan pak Sukro untuk tidak sering-sering ke Masjid. Hal ini supaya jika ditanya pak Sukro, mereka tidak tahu siapa yang qurban paling banyak. Ternyata hal ini dilakukan pak Ustadz karena ada yang menyumbang sapi, namun disembunyikan di belakang masjid supaya tidak diketahui pak Sukro.
Pada hari H, dengan bangganya pak Sukro membawa empat ekor kambing. Dengan pongah, seperti biasanya, pak Sukro menyerahkan empat ekor kambing itu kepada panitia. Selalu saja kata-kata yang membanggakan diri keluar dari mulutnya. Mirip dengan karakter Madit Musyawaroh di Islam KTP itu. Namun wajahnya berubah total ketika teman saya berteriak kepada pak Ustadz, “pak ustadz, kambingnya dulu atau sapinya dulu?” Belakangan saya tahu kalo teriakan itu disengaja. Dan yang merencanakan itu adalah teman-teman serta diamini pak Ustadz.
Pak Sukro kemudian menghampiri pak Ustadz dan memprotes kenapa tidak ada yang memberitahu dia kalo ada yang berqurban sapi. Jika tahu begitu, dia akan berqurban sapi juga. Dengan santainya pak Ustadz menjawab, “Kalo anda mampu berqurban dengan sapi, seharusnya tidak usah ada yang berqurban sapi pun anda sudah menggiring satu sapi kesini, pak Sukro, ibadah itu tergantung keikhlasan, Allah tidak melihat rupa tapi melihat hati.”
Merasa kalah perang, tanpa satu patah katapun pak Sukro segera pergi tanpa mengucapkan salam. Tapi teman-teman dan sejumlah orang disekitarnya dengan serentak mengucapkan “Wa’alaikumsalam” keras-keras. Setelah merasa pak Sukro cukup jauh, kemudian seluruh orang yang ada disitu tertawa keras-keras. Sepertinya kedongkolan akibat kesombongan pak Sukro selama ini sudah terbalaskan begitu. Bahkan kalo saya ingat, saya masih suka tersenyum sendiri.
Ibadah itu tentang keikhlasan, bukan materinya
Saya berpikir, bukankah nilai qurban itu terletak pada keikhlasannya. Saya justru kasihan kepada pak Sukro itu, dia merugi dua kali. Jelas sekali dia tidak mendapatkan pahala dari ibadahnya itu dan yang kedua adalah dia kehilangan uang untuk membeli kambing itu. Ibadah seharusnya bukan sekedar ritual seperti gerak badan senam pagi. Ibadah punya dimensi moral spiritual yang mengandung aspek edukatif untuk membangun perilaku yang konstruktif. Ibadah seharusnya memiliki implikasi dalam kehidupan seseorang, seperti sholat misalnya.
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Q.S Al-Ankabut:45
Lalu kenapa masih ada orang yang rajin sholat tapi juga rajin maksiat, korupsi dan melakukan perbuatan destruktif? Kalo itu jangan tanyakan saya, tanyakan saja kepada orang yang bersangkutan, sudah benar belum sholatnya.
Kesimpulan
Kembali ke masalah qurban, ibadah kita satu ini bukanlah ritual untuk “menyuap” Sang Maha Pencipta. Qurban bukanlah persembahan untuk Allah. Allah itu Maha Kaya, tidak butuh apapun dari makhluknya. Apalagi Allah yang yang menciptakan kambing, sapi dan unta. Menurut saya, yang terpenting dari qurban bukan terletak kepada siapa daging itu dipersembahkan, tetapi terletak pada pengaruhnya terhadap orang yang menjalankannya. Keikhlasan, itulah yang Allah inginkan dari manusia.
Jadi kesimpulannya, orang-orang yang berqurban namun tidak ikhlas tidak jauh berbeda dengan mereka yang tidak berqurban. Bahkan dalam materi mereka lebih merugi karena kehilangan harta yang tidak sedikit untuk membeli hewan qurban. Fakir miskin dan kaum dhuafa tentu saja mengharapkan banyak yang berqurban, tak peduli ikhlas atau tidak yang qurban, kapan lagi mereka bisa menikmati daging secara gratis. Menurut anda, bagaimana fenomena ini?
Kalimat yang terkait dengan artikel diatas
pentingnya ibadah.
Ada 7 tanggapan dari pembaca artikel ini
Dibawah ini adalah tanggapan yang dikirimkan pembaca atas artikel ini. Kami menerima kritik dan saran namun tidak menerima caci maki. Hidup cuma sekali, untuk itu berbuatlah yang baik. Caci maki hanya akan menyakiti orang lain. :)

GaL pada 06/11/2011 berpendapat sebagai berikut:
Nice posting
stupid monkey pada 06/11/2011 berpendapat sebagai berikut:
setuju gan, memang banyak sekali orang yang tergolong ria jika menyangkut pengeluaran yang besar, ya, salah satnya kurban, jadi tanpa kita harus belajar lebih ikhlas. mapir2 gan ke tempat saya ..
Posting terakhir stupid monkey adalah Idul Adha 1432 H
I2-Harmony pada 06/11/2011 berpendapat sebagai berikut:
@GaL: Ma kasih gan…
@stupid monkey: Iya gan, miris juga kadang qurban dipake buat iklan.
Ane sudah anjangsana ke blog situ lho. 

Posting terakhir I2-Harmony adalah Happy Anniversary: Two Years of Relationship, the longest one.
arief pada 07/11/2011 berpendapat sebagai berikut:
maksih gan pencerahannya…ikhlas memang trsembuyi dlm hati…“muklisina lahuuddiiin…~~~sbrapapunbnyak amaliah kt..kan musnah..kl gak ikhlas.
bams pada 07/11/2011 berpendapat sebagai berikut:
Nah, menjaga niat ini yang susah gan… terkadang selalu terbersit, walau kecil, rasa sombong bila kita berkurban… semoga Allah menjaga hati kita agar niat ibadah kita tulus… amiiin. Nice experience, thanks for sharing…
I2-Harmony pada 07/11/2011 berpendapat sebagai berikut:
@arief: Betul gan, ikhlas itu puncak agama. Agama apapun pasti akan mengajarkan ikhlas. Berserah diri kepada Allah tentang segala ketentuanNya. Hidup pasti akan menjadi damai.
@bams: Kalo terbersit di dalam hati itu manusiawi asalkan kita segera mengkoreksinya serta kembali mengingat serta memohon ampun Allah dengan beristigfar, insyaAllah malaikat masih mencatat amal kita pak.
@konde: Iya gan, betul itu.

Posting terakhir I2-Harmony adalah Menjadi pria lucu yang disukai wanita.
konde pada 07/11/2011 berpendapat sebagai berikut:
timbulnya jadi ria’ gan
Kamu Blogger…? Yuk Ikutan Event Untuk Blogger Berhadiah Blakberry Playbook Berakhir 23 Desember 2011